Senin, 21 September 2015

Yang baru dari Malang : STRUDEL

Memalukan !!

Itulah yang pertama kali menyelinap di pikiran ketika suatu saat penulis kedatangan teman dari jauh dan mencari hidangan "khas" Malang tanpa tau apapun tentang hidangan tersebut !!

"Oleh-oleh baru dari Malang, Strudel"

Dan kami pun meluncur di jalanan di pagi menjelang siang tersebut.


Dengan pertimbangan posisi terdekat dan waktu yang tersedia, sampailah kami di salah satu cabang branded itu di depan RS Lavelette Malang.

Pilihan pertama yang terlintas adalah rasa yang dah pasti cocok di lidah untuk sebuah kue pie : pisang coklat.

Gigitan pertama pun tereksekusi, dan.....

Hhhmmmmm...... nothing special

Biasa aja tuhhhh.....

Rabu, 16 September 2015

My Diary : Pay it Forward

Tulisan yang di posting oleh seorang kawan di salah satu sosmed kita, Pay it Forward  tampaknya biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa dehhhhh......

Ah.... itu kan judul film .....
Kisah tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir apa yang akan terjadi jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang di sekitarnya ?

Dan ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya yah ?

Dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi.

Dia menamakan ide tersebut: "PAY IT FORWARD"

Dimulai dari dirinya sendiri !

Sang ibu, si pemuda gembel, dan seorang teman sekelasnya

Sebagai pengganti "You are welcome", Trevor selalu membalas ucapan terimakasih yang diterimanya itu dengan tiga kata lainnya : "Pay it forward"

Sekilas kayak sistem pemasaran yang lagi ngetrend
sepuluh tahun terakhir ini, kawan,
Multi Level Marketing, atau disingkat MLM.

Mirip juga kayak surat berantai atau money game yah?

Dimulai dari tiga orang
yang masing-masing mengajak tiga orang juga,
jadilah sembilan.

Dari sembilan orang tersebut,
masing-masing mengajak tiga orang lagi,
jadilah duapuluhtujuh.

Duapuluhtujuh menjadi delapanpuluhsatu .....
duaratusempatpuluhtiga......
tujuhratusduapuluhsembilan ......
dan seterusnya..

Yang diberi nggak perlu selalu uang atau materi, kawan.

Bukan juga sebuah produk atau ajakan untuk membeli sesuatu.

Tapi senyuman,
ucapan selamat pagi,  
"Very good morning",
sekelumit doa "God bless you",
secuil perhatian,
setetes bantuan......

sebuah aura positif, guys !
Itu lebih dari cukup !

Wow, will be so owesome lhooooooo.....

Nggak perlu sepanjang hari dehhhh......... satu jam aja !
Nggak perlu sepanjang minggu
Nggak usah sepanjang bulan, minggu, taon.....
bahkan nggak perlu seumur hidup kita kok....


Percaya apa nggak, semua itu akan kembali kepada kita lhooo.....

Coba inget-inget,
pernah nggak kita ditolong ama orang
yang nggak kita sangka sama sekali?

Atau mendapatkan senyum manis
dari seseorang yang secara kebetulan papasan di mall ?

Bahkan mendapatkan limaratus perak dari tukang roti
yang nggak punya kembalian dari roti yang kita bayar ?


Itu adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu, kawan !

Dan ketika kita mendapatkan sebuah ucapan terima kasih
dari bibir yang gemetar menahan air mata haru,
dengan mata yang berkaca-kaca penuh ucapan syukur,
yukkkk.... kita titipkan pesan kepadanya :
PAY IT FORWARD, balaskan ke yang lainnya.....

Orang itu pun akan senang melakukannya lhoooo.....
soalnya dia menerima kebaikan kita itu dengan gratis !!

Terbayang apa yang akan terjadi kan ?!

Dunia akan bebas dari perselisihan, sobat !!
Nggak akan ada lagi dendam, benci, iri, prasangka buruk, sakit ati..... karena semua orang memancarkan aura positif yang bersifat menular itu !!

wowwww...... indahnya hidup ini ..... 
Banyak teman, sahabat, saudara, rekan..... hmmmmm..... bukankah itu adalah impian kita semua, sobat ??


Mungkinkah saat kita terkagum-kagum 
menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, 
dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan 
bagaimana cara untuk mengungkapkan 
rasa terima kasih kepadaNya, 
jawaban Tuhan hanya sesederhana ini

"PAY IT FORWARD"

Senin, 14 September 2015

Awal Sebuah Canda

Berawal dari chat yang masuk di ponsel penulis, sebuah chat dari Medsos group yang sering kami pakai untuk say hello ke sesama alumni....  

Dengan candaan candaan serta celetukan celetukan yang kadang membuat kita tersenyum senyum sendiri di dalam salah satu chat tersebut ada ajakan seorang sahabat Andi Tasmiko yang menurut penulis ini adalah momentnya dan harus bisa terlaksana karena kita berada di waktu yang tepat. 


Paralayang, Gunung Banyak Pujon Medio 6 September 2015 kami berdua berangkat kesana.

Perjalanan kami tempuh dengan aman dan lancar guys. Lokasi tempat paralayang ini mungkin kalian sudah sering dengar guys bahkan juga sudah pernah kemari juga kan?  Yups tempat wisata yang berada ±40an km dari Malang ini memang sangat cocok untuk dipergunakan sebagai tempat paralayang diapit lembah kiri dan kanan dan latar belakang kota Batu dibawahnya. So Amazing....

Hanya sedikit yang membuat penulis sayangkan adalah jalan menuju lokasi ini masih belum diaspal bagus masih berupa jalanan tanah yang berdebu.

Kalian harus ekstra hati hati ya guys karena selain sempit jalanan ini memiliki tanjakan yang cukup miring dan mematah naik.  Adrenalin bakal terkocok nih...  hehehe semoga kedepannya nanti ini bisa segera dibenahi. 



Kami sampai..... Yessss..
Setelah memarkirkan kendaraan kami coba menaiki jalan setapak menanjak keatas bukit kecil didepan kami, padahal  ada jalan memutar untuk itu,  berasa masih mampu atau ego yah... Kami ambil jalan pintas ini walau berasa juga sih di kaki hahaha... Kami boleh tidak muda lagi tapi jiwa dan semangat kami nggak bakal kalah deh sama yang muda muda.



Udara segar... Angin bertiup sepoi sepoi dingin.... Langit biru jernih... Hamparan pohon pinus dimana mana melengkapi karya sang maha kuasa.  

Taaaadddaaaa.........  Lihat, di depan mu Kota Batu berada jauh dibawah mu...menjadi hiasan nan cantik panaromana alam ini. Berlatar belakang Gunung Panderman yang menggoda seakan akan mengajak kami untuk datang lagi berkunjung kesana, dimana 30 tahun lalu kami juga pernah "mbolang" kesana.  

Thank God we're here....





Suasana disini cukup ramai dengan muda mudi nya yang narsis dengan tongsis nya...  Berselfie ria....  Atau pun beramai ramai bersama teman temannya suasana cukup ceria guys.

Kami mencoba mengabadikan beberapa spot yang menurut kami bagus. Oh ya guys ada beberapa warung diatas sini jadi bila kita lapar atau pun sekedar ingin membeli minuman jadi nggak perlu khawatir lagi deh....

Seperti yang aku sampai momentum ini sepertinya nggak boleh dilewatkan guys guess what?  Yups in dia yang aku maksudkan.Di album foto kami 30 tahun yang lalu kami pernah berfoto berdua dengan latar belakang yang hampir mirip dan kami pun mencoba mengulangnya lagi dikesempatan ini...    And this is it....




Kami sudah memulainya dan kami berharap kalian pun bisa guys....  
Bongkar foto foto jadul mu cari lah teman teman mu ajak dia mengulangi bersamamu....

Dan bila itu terjadi ... "just a feeling that can be felt"

Jumat, 11 September 2015

The Soldier : MAX ( NINO ) DARMAWAN

Kecemasan orang tua tentang masa depan anak remajanya bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Wajar, amat sangat wajar,
buat para orang tua di manapun berada,
bahkan di negara penganut paham liberalism sekalipun.

Apalagi di negara kita ini,
di angkatan kita ini, kawan.

Pertanyaan-pertanyaan "kuno"
masih saja terdengar.

Kalimat-kalimat yang dulunya kita benci,
mulai keluar dari mulut kita kan?!

"Kapan berkeluarga?"
"Kapan bisa momong cucu nih?"
Biiiuuuhhhh.....

Berharap jawaban memuaskan  ? Sah-sah aja sihhh.....

Tapi dengan adanya era globalisasi, kayaknya kita kudu siap dengan jawaban, yang bisa jadi, "bikin stroke", walaupun baru sekedar wacana dari generasi muda jaman sekarang.

Memang sih, pernikahan selalu diikuti dengan "kewajiban" lain, yaitu memiliki keturunan.
Dan nggak bisa diingkari, perbedaan usia yang terlalu jauh antara orang tua dengan anak, akan menimbulkan masalah lain.

Motto "Mati, Rejeki dan Jodoh ada di tangan Tuhan" nyatanya nggak sanggup menghapuskan kecemasan akan timbulnya masalah lain tersebut. Sehingga, bisnis biro jodoh pun menjamur, sobat !

Beberapa pernikahan cenderung terkesan buru-buru, dan adat ketimuran memaksa banyak pasangan untuk bersandiwara.

Namun, sobat kita yang satu ini memilih untuk mengikuti kata hati dan waktu yang ditetapkan Sang Penciptanya, kawan.


Ditemui di lobby sebuah hotel di kota hujan, Bogor,
NINO, yang ternyata bernama seleb : MAX DARMAWAN,
sungguh mampu mengejutkan penulis dengan datang bersama kedua putranya yang masih usia SD, Clay dan Stephen !

Bersama istrinya yang masih belia, Liena,
Nino tampak menjalani kehidupannya dengan
penuh ucapan syukur, penuh rasa optimisme menatap tahun-tahun mendatang, kawan.

Sulit dibayangkan !

Tapi itulah sang Vice President, walau lebih suka menyebut dirinya Marketing Manager National, yang baru dipromosikan tahun ini, mengiringi kepindahan keluarga muda ini ke kota metropolitan.

Justru di saat sebagian besar angkatan kita ribut dengan keputusan para putra putri mereka pasca sekolah menengah atas, study dan babak kehidupan baru mereka, lelaki ini masih harus menghadapi tingkah polah kedua koboi cilik nya.

Menikmati beberapa menit bersama keluarga ini, kenangan penulispun seakan ditarik mundur ke belasan tahun lalu, sobat

Kalimat-kalimat perintah seorang ayah dan ibu, mendominasi perjalanan kami, sesuatu yang nggak pernah kita lakukan seiring bertambahnya usia anak-anak kan?! Dan hari itu, kental terasa dalam rumah tangga seorang sahabat dari angkatan yang sama dengan kita lho.....


Tampak nyata kepercayaan nya akan Sang Pengatur Kehidupan ini,  sobat !!

Walau terlihat "mengerikan", khususnya dengan kacamata seorang Financial Planner, yang selalu memikirkan produktivity dan financing responsibility,

mengintip kehidupanmu mampu membuktikan, bahwa semua teori akan rontok di hadapan Sang Pencipta !


Luar biasa !!


Soldier,

Di balik sifat pendiam mu,
Kau ajari kami kepercayaan itu
Kau tunjukkan kami penyertaan Nya
Kau beritakan kesetianNya

So amazing !

Keep fighting, buddy
Keep the spirit on !

Pada saatnya nanti, 
biarkan juniormu belajar
Ada DIA di dalam segala perkara

Dan....
Ada sobat yang selalu menemanimu
karena....

We love you
We support you

Senin, 07 September 2015

Catatan Sahabat : Unforgetable PEKALONGAN


Oleh Lilik Noviani

Bagi masyarakat awam, terlebih pedagang batik, nama Pekalongan sudah tidak asing lagi ditelinga. 

Bagi pedagang dengan modal besar, dengan berbekal label, mereka memesan kain batik, baju disini, bahkan Pekalongan juga memasok sentra industri batik di Yogya dan Solo.

Batik Pekalongan  sudah banyak di kenal karena motifnya yang berbeda. Secara geografis dipengaruhi oleh posisinya yang tidak jauh dari pantai, sehingga kental dengan pengaruh batik pesisiran, salah satunya warnanya cerah, dan motifnya yang beraneka macam

Jumat, 04 September 2015

The Soldier : DIDIK SETIABOEDI


Postingan salah satu sobat kita di group Sosmed Langsep 86 Malang ini sontak menarik perhatian penulis.

Ketemu Didik di Bali

Didik ? 
Didik temen sekelas waktu SMA dulu ? 
Bener tah ?

Nggak yakin, setelah melalui beberapa tahap, penulis pun membuka jalur komunikasi dengannya.

Ngobrolnya enak, bahasanya gaul, pemikirannya sederhana......
Dilanjutkan dengan mencocokkan waktu buat kopi darat di kota tercinta kita, Malang, liburan panjang bulan Juli yang lalu.

Namanya belum jodoh, kami pun sepakat untuk menundanya di lain waktu. Dan..... Lobby Hotel Kartika Chandra di Jakarta, menjadi saksi pertemuan pertama kami malam itu.

DIDIK SETIABOEDI

Masih seperti yang dulu, tinggi, kurus, ramah, supel, dengan senyum khasnya....

Walau guratan di wajahnya udah berbeda dengan tiga puluh tahun lalu, tapi ingatan penulis cukup kental tentang lelaki yang satu ini.

Cenderung pendiam, susah memulai pembicaraan dengannya, namun pemikiran dewasanya yang jauh melebihi usianya saat itu, sempat mampu mempesona seorang gadis belia, kawan !

Dan itu yang nggak berubah !!
Didik Setiaboedi masih tetap yang dulu !


Ditemani terang bulan bangka
yang sengaja dibelinya
akibat mengintip obrolan di group,
 jam demi jam pun kami lewati di malam itu.

Tanpa menghiraukan udara malam,
atau perjalanan yang cukup jauh untuk bisa
kembali pulang ke Serpong,
tempat tinggalnya sendiri,
bersama motor kesayangannya,
waktu yang disediakan nya bagi seorang kawan lama,
mampu membuktikan keperdulian nya.


Lelah menjalani kehidupan sebagai seorang karyawan yang notabene, semua yang dimilikinya, waktu, tenaga, pikiran, bahkan keluarganya, udah "dibeli" perusahaan, lelaki ini memutuskan untuk beralih ke bisnis...... dan bisnis transportasi pun dilakoninya sampai hari ini.


Dikaruniai dua orang anak gadis yang sudah beranjak dewasa, 
kehidupan metropolitan mampu membuat lelaki ini 
berpikir panjang untuk bertindak dan melangkah 
di dalam mendidik mereka, kawan.

Kekhawatiran seorang ayah terpampang jelas 
ketika bibirnya menyuarakannya, 
walau terbalut dengan tawa dan canda.

Kekhawatiran yang bukan tanpa alasan
Suka tidak suka, siap apa nggak.
Tongkat estafet akan segera beralih



Dalam keadaan seperti itu,
bukanlah Didik Setiaboedi
bila tidak merenungkan kehidupan selanjutnya

Ketika anak-anak beranjak dewasa,
menikah dan membangun keluarganya sendiri
Cermin dari generasi sebelumnya !




"I am not a perfect guy"
Satu lagi bukti kedewasaanmu, kawan

Kita memang nggak pernah tau
Apa yang akan terjadi selanjutnya

Itulah manusia
Jatuh bangun terjadi senantiasa
Tinggal bagaimana kita ingin menutup buku ini
Dalam kejatuhan, atau dalam kebangkitan

Soldier,

Life is not easy
Tapi tersenyumlah,
Karena di sanalah kemenanganmu
 Karena kaulah kebanggaan bagi putri-putrimu
Bagi dia yang kau cintai
Bagi keluarga yang kau bangun
dengan cinta dan kebijaksanaan
seorang Didik Setiaboedi....

You are so wonderful !!


We love you, buddy....
And we always support you



Rabu, 02 September 2015

Dange, Kudapan wajib dari Makassar


Di sebelah utara Kota Makassar, tepatnya di sepanjang jalan trans Sulawesi poros Makassar-Pare-pare, Kecamatan Segere, Kabupaten Pangkep, dapat dijumpai deretan warung. Uniknya, di bagian depan setiap warung yang berderet tersebut, terdapat sebuah pembakaran. 

Warung-warung tersebut ternyata menjual dange, salah satu kudapan yang banyak digemari warga Sulawesi. Dange adalah campuran ketan hitam, kelapa, dan gula merah yang dibakar di atas bara api. 

Proses pembuatan dange sangat sederhana. Mulanya kelapa diparut lalu dicampur dengan ketan dan diaduk hingga rata. Adonan kelapa parut dan ketan kemudian ditaburi gula merah yang lalu dimasukkan ke dalam cetakan-cetakan untuk dibakar.